10 Maret 2007.
Wang Jiayi kini sedang berada di rumah asuhnya yang kesekian. Lucunya, tiada hal yang berbeda antara kehidupannya sebelum masuk ke sistem, maupun sesudah. Semuanya sama, setiap rumah dan keluarga memiliki masalah-masalahnya sendiri. Entah apa alasan mereka dinilai layak sebagai rumah asuh oleh pemerintah, namun nyatanya begitu. Mungkin, ketika penilaian lalu, mereka menutupi segalanya dengan senyuman manis dan akting ramah yang mempesona pekerja sosial yang melakukan survey.
Dibalik itu semua, selalu konsep yang sama, lingkaran yang sama. Seorang kepala keluarga yang memperlakukan istrinya dengan amat kasar, pula seorang istri yang tidak ada keinginan untuk lepas akibat terlalu cinta. Kembali tertanam di benak Wang Jiayi bahwa ini semua wajar- bahwa kekerasan adalah bentuk seseorang mengungkapkan rasa sayangnya. Sejak dini, naluri psikopat miliknya sudah terbentuk.
Satu ketika, di salah satu rumah asuh, boneka beruang favoritnya ditahan oleh sang ayah asuh di ruang tamu. Mengambilnya kembali adalah sebuah tantangan sendiri, sebab tak lama kemudian, pasangan pemilik rumah itu datang dan berdebat di sana. Baru kali ini, Jiayi merasa kesepian. Selama ini, ia selalu ditemani oleh boneka itu ketika perdebatan serta teriakan di mulai. Ia harus mengambilnya kembali. Itu ‘kan miliknya!
Jiayi kecil berjalan perlahan ke arah ruang tamu. Tubuhnya yang mungil dan pendek membuat keberadaannya tidak mudah disadari. Sudah terbiasa bergerak tanpa suara, Jiayi berhasil mengambil boneka beruang miliknya yang tersayang. Baru saja ia hendak kembali ke kamar, sebuah suara menghentikannya.
“Berhenti disitu!”
Langkah kaki nan berat dapat terdengar mendekati Jiayi. Gadis kecil itu mendongak. Rupanya sang ayah asuh, dengan mimik muka penuh amarah. Dengan kasar, direbutnya boneka beruang yang berada di kuasa Jiayi.
“Kau pikir aku tidak akan sadar kalau kau mengambil ini?!” Seru lelaki itu. Ia membungkuk dengan mata yang tengah melotot ke arah Jiayi, menyamakan pandang antar keduanya.
“Kamu tidak akan mendapatkan ini sampai kau melakukan apa yang kusuruh!” Ia kembali menyeru dengan lantang, menyemprotkan beberapa ludahnya di wajah Jiayi. Pun gadis itu segera mengelapnya.
Ayah asuhnya itu kembali bangkit dan menunjuk ke arah Jiayi.