20 Mei 2004.
Kembali lagi dengan serial pertengkaran Chen Jiali dan Wang Linyi yang tiada henti. Namun kali ini, rasanya ada yang berbeda. Wang Linyi pulang ke rumah dengan keadaan yang amat mabuk- lebih dari apapun. Sepertinya ada sesuatu yang salah dalam pekerjaan yang memaksanya untuk memenuhi diri dengan alkohol.
“Sayang, tolonglah,”
“DIAM!”
“Aku tak bisa bernafas, tolong-”
“AKU SANGAT MUAK MELIHATMU!”
Wang Jiayi seharusnya tahu kala itu. Oh, Jiayi kecil yang polos. Bagaimana itu semua terjadi, bagaimana ia seharusnya dapat menghentikan itu. Bagaimana ia seharusnya dapat menelpon polisi, tetapi tidak ia lakukan. Jiayi tidak tahu. Jiayi tidak pernah tahu. Ia tetap diam tanpa suara, seperti yang selalu ia lakukan. Seperti yang biasa dipinta oleh ibunya. Menutup telinga. Wang Jiayi kecil tak berbuat apapun selain itu.
Satu dorongan. Satu dorongan yang amat kuat dari Wang Linyi menjadi akhir dari segalanya. Akhir dari suara-suara keras yang memenuhi rumah kecil itu. Memar-memar biru di kulit ibu akan tetap membekas selamanya, tetapi setidaknya tak akan ada lagi perlawanan.
Kepala Chen Jiali terbentur pigura besar yang terpajang di kamar tidur mereka ketika Linyi mendorongnya amat kuat ke dinding. Dua trauma di kepala menjadi alasan kematian Chen Jiali. Ketika akhirnya ambulans datang setelah Wang Linyi menelpon, semuanya sudah terlambat. Para dokter sudah berusaha sekuat tenaga mereka, namun nihil. Bagaimanapun itu, detak jantung Chen Jiali telah berdetak untuk terakhir kalinya.
“Pukul lima sore, Jiali Chen saya nyatakan telah meninggal dunia.”