20 Desember 2012.
Aku menghela nafasku. Mataku yang tadinya terpejam, kini terbuka dengan lebar. Di hadapanku kini adalah jalanan ramai kota New York. Ini berarti mangsa yang cukup banyak untukku. Aku tersenyum miring melihatnya. Baik, Wang Jiayi, ini waktumu untuk bersinar!
Kuregangkan tanganku sejenak sebelum benar-benar memulai pekerjaanku hari ini. Tidak begitu diperlukan, memang, tapi aku selalu suka melakukan beberapa pemanasan sebelum mulai. Anggap saja itu sebagai ritual yang harus aku lakukan agar semuanya berjalan lancar. Yah, walaupun aku juga tahu, tidak akan ada masalah yang terjadi. Semua orang terlalu sibuk dengan dirinya sendiri untuk bahkan merogoh kantong dan tas mereka masing-masing.
Aku mulai berjalan menerobos lautan manusia itu. Dengan lincah, tanganku merogoh kantong baju dan tas mereka yang terbuka, seperti menyodorkan sebuah makanan penutup yang amat manis kepadaku. Bukan pertama kalinya aku melakukan hal ini. Aku pun sudah hafal bagaimana kebanyakan insan menyimpan barang-barang mereka. Dari penampilannya saja, aku sudah dapat memindai dimana mereka menyimpan dompet dan kartu kredit mereka. Pun, karena diriku yang masih belum mencapai umur dewasa, mereka bahkan tidak melihatku sebagai sebuah ancaman! Ini sangat mengasyikkan.
Satu, dua, tiga, empat- aku bahkan tidak bisa menghitung sudah berapa yang ada di dalam mantelku saat ini. Demi kenyamanan bekerja, aku memang selalu menggunakan mantel. Bentuk pakaian satu itu sudah terbukti aman dalam membawa kembali hasil copetan, terlebih mengingat jenis kelaminku yang perempuan- semua orang akan ragu untuk mengecek ke dalam bajuku. Manusia dan etikanya. Ha! Memangnya ada masalah apa kalau melihat? Toh, mereka sudah pernah melihat tubuh wanita dan pria di dalam buku-buku anatomi- bahkan lebih jelas karena ada gambar letak jantung dan paru-paru dan organ penting lainnya.
Aku memang tidak bersekolah, tapi bukan berarti aku tidak tahu hal-hal seperti itu. Malah, pengetahuan tentang tubuh manusia itu kurasa cukup penting dipelajari sebagai bagian dari pekerjaanku. Jika tidak, bagaimana aku bisa menusuk titik poin yang dapat membuat seseorang tak sadarkan diri dengan tepat? Tentu saja tidak bisa. Bukan berarti itu tujuan utama- hanya saja, itu perlu, kau tahu? Penting dipelajari sebagai salah satu bentuk bela diri. Hanya untuk jaga-jaga, jika ada sesuatu yang mengesalkan terjadi dalam bekerja. Aku tidak akan mengatakan hal mengesalkan itu yang seperti apa, tentu saja. Yang pasti, akan dibutuhkan ketika aku tak dapat menahan amarah (walau kata beberapa kawanku, cukup sering).
Merasa sudah mengantongi cukup banyak, aku memutuskan untuk menepi sejenak ke dalam salah satu gang untuk menghitung penghasilanku hari ini. Beberapa gang di sini memang menakutkan, juga ada kemungkinan didatangi oleh beberapa preman yang dapat memaksaku untuk memberikan hasil pendapatan hari ini, namun aku sudah hafal seluk beluk New York. Aku tahu dimana tempat yang aman bagiku untuk bisa mengecek barang-barang hasil copet yang kulakukan.
Begitu sampai di tempat yang aman, aku mengeluarkan semua dompet dari mantelku. Aku menghempaskan semuanya ke jalanan. Siapa yang peduli dengan dompetnya, bukan? Yang penting itu isinya. Netraku segera memindai, menghitung berapa dompet yang kucuri hari ini.
“Dua puluh lima. Yah, tidak buruk untuk ronde pertama,” Aku bergumam sendiri.
Satu per satu dompet itu kubuka. Ada yang isinya hanya beberapa dolar dan sebuah kartu kredit (menyebalkan, aku tahu), lalu ada pula yang berisi uang sejumlah lima ratus dolar (jackpot!). Setidaknya cukup merata, tidak semuanya buruk. Aku cukup puas. Kukantongi setiap lembar uang dolar yang kudapatkan dari dompet-dompet itu. Tak lupa, aku membawanya ke hidung untuk kuciumi baunya sebelum benar-benar kusimpan.