18 April 2002.

“KAMU GAK PERNAH NGERTI!”

“Sayang, ayo tenang dulu-”

“BODOH! BODOH! SIALAN!”

Teriakan-teriakan penuh amarah dapat terdengar dari balik pintu kamar Jiayi kecil. Tentunya sang gadis balita itu terbangun dari tidurnya. Tetapi, tak ada suara tangis yang terdengar dari arah kamarnya. Tidak, tidak. Jiayi sudah biasa dengan hal ini sehingga ia sudah tidak lagi menunjukkan reaksi apapun. Tanpa mengeluarkan suara, ia bangkit dan berjalan mendekat ke arah pintu kamarnya. Perlahan, ia menarik gagang pintu dan mengintip situasi di luar sana.

Hal ini memang bukan sesuatu yang baru ataupun tak lazim ditemui olehnya. Malah, situasi kali ini dapat dinilai lebih baik daripada biasanya. Kondisi biasa yang selalu berakhir dengan munculnya memar-memar biru di kulit sang ibu. Namun, Wang Jiayi kecil tak pernah mengerti kesakitan yang dialami ibunya. Ia masih terlalu muda untuk itu.

“Semuanya baik-baik saja. Pastikan telingamu selalu tertutup, dan yakinlah, semuanya baik-baik saja.”

Sebuah kata-kata yang seringkali Jiayi dengar dari mulut ibunya. Jiayi selalu tersenyum dan mengangguk ketika mendengar ucapan itu. Pada dasarnya, ia memang seseorang yang pendiam. Bersyukurlah ibunya akan hal itu, sebab ia pasti akan kewalahan jika tidak. Menghadapi hantaman dari suami, pula harus menenangkan anak yang berisik. Bisakah kau bayangkan?

Tidak ada yang tahu mengapa Chen Jiali memutuskan untuk menikahi Wang Linyi. Semua sudah tahu, Wang Linyi adalah seseorang yang kasar di daerah mereka dulu. Wang Linyi adalah ketua geng yang sudah sering bertarung habis-habisan dengan geng lainnya kala itu. Tetapi, Chen Jiali tetap memilih untuk menikahinya. Banyak yang mengira, Wang Linyi menghamili Jiali di luar nikah. Namun, alasan sesungguhnya masih menjadi misteri besar bagi banyak orang.

Jika ditanya, Chen Jiali akan berkata bahwa Wang Linyi adalah orang yang baik. Iya, memang, benar. Wang Linyi merupakan pria yang sangat baik pada istrinya- setidaknya sebelum ia mengalami kebangkrutan yang memaksa keluarga kecil mereka untuk pindah dan mencari suaka di Amerika Serikat. Perilaku Wang Linyi di luar dan di dalam keluarga itu sangat berbeda. Sekali lagi, itu semua dirasakan oleh Chen Jiali sebelum kebangkrutan usaha yang dijalankan oleh Wang Linyi.